Pengelolah Diduga Kayu Arang Ilegal Marak di Langkat, Sumut

INDONESIASATU.CO.ID:

Langkat

Tim LI-TPK ANRI (Lembaga Investigasi Tindak Pidana Korupsi Aparatur Negara RI) Bambang S, SH didampingi Ketua LKLH (Lembaga Konservasi Lingkungan Hidup) Sumut Indra Mingka, melakukan investigasi khusus, pada hari Sabtu (12/05/2019) lalu ke daerah Pematang Jaya Kab. Langkat Sumatera Utara menelusuri pembabatan kayu bakau yang dijadikan arang diduga berkedok resmi tapi illegal.

Sekira pukul 12.00 Wib tim investigasi sampai ke desa Serang Jaya dan langsung melakukan pemantauan di sungai buluh dan sekitarnya.

"Kita temukan ada sekira belasan dapur arang yang sedang beroperasi dengan berbagai aktifitas seperti membakar kayu laut, tumpukan bahan baku kayu laut yang belum dibakar dan tumpukan kayu laut yang sedang dibakar untuk menjadi arang serta tumpukan goni berisi arang yang siap dikirim ke tengkulak yang sudah siap untuk diedarkan", ungkap Indra Mingka kepada indonesiasatu.co.id pada hari Senin (13/05/2019)

Hal ini menjadi tanda tanya besar dari tim yang sedang melakukan investigasi karena ketika ditanyakan kepada masyarakat sekitar dapur pembakaran arang, ada kejanggalan. Satu bos mengatasnamakan koperasi namun bos yang satunya lagi perseorangan.

Ketika tim menanyakan dari mana kayu bakau tersebut diambil, salah seorang masyarakat yang tak mau disebut namanya menjawab, "asal ambil ajalah pak, yang penting bisa dibakar jadi arang."

Kemudian tim menemui salah seorang pekerja disekitar dapur kayu arang. Ketika ditanya sudah berapa lama dapur arang tersebut berproduksi, dijawab salah seorang pekerja sudah tahunan dan kayu laut (bakau) berasal dari hutan sekitar sinilah.

"Belasan dapur arang dari 3 lokasi kita temukan semua aktif. Bahan baku kayu laut diambil dari hutan oleh pengumpul", unjar Indra Mingka.

Mereka para pengumpul itu bernaung dibawah koperasi yang katanya punya izin untuk ambil kayu laut. Ukuran batang kayu laut masih kecil berdiameter 2 cm dan ada juga ukuran 4 cm. Tapi dominan kecil kecil semua.

Kayu laut yang sudah jadi arang dimasukkan ke dalam goni 20 Kg lalu ditolak ke koperasi. "Nanti ada mobil Pick-Up yang menjemput untuk dibawa ke Pangkalan Susu", kata salah seorang pekerja kepada tim investigasi.

Terus ada lagi toke lain yang membeli arang tersebut yaitu ke Pak A penduduk desa Serang Jaya.

Analisa Ketua DPW Lembaga Konservasi Lingkungan Hidup Sumut Indra Mingka ada beberapa Hal :

Pertama, bahwa ukuran kayu laut yang dipanen rata-rata masih ukuran kecil dan diyakini dibabat yang tak cukup ukuran.

Kedua, para pengumpul kayu laut tidak memiliki peta areal kerja dan tidak memegang IUPHK HTR (Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Kayu Hutan Tanaman Rakyat).

Ketiga, Perlu tata kelola areal HTR yang sudah memiliki IUP.

Bambang S, SH Ketua DPP LI-TPK ANRI (Lembaga Investigasi Tindak Pidana Korupsi Aparatur Negara RI) menerima laporan dari warga Langkat langsung turun dari Jakarta dan terjun langsung ke lapangan melihat kondisi dan situasi di lokasi.

"Waduh kayu laut atau mangrove yang diolah jadi arang ukuran kecil sekali, ini namanya bukan tebang pilih tapi tebang habis. Disisi Lain diduga Perambahan Kayu Laut semakin marak di Langkat", ungkap Bambang dengan nada kesal.

"Atas temuan ini saya mendesak UPT KPH Wilyah I Langkat untuk segera melakukan pengawasan dan pembinaan agar dilapangan para pemanfaat kayu laut bisa tebang pilih dan lebih lanjut kita akan menyurati Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melaporkan hal ini", ucap Bambang S, SH ketika ditemui indonesiasatu.co.id.  Edward Banjarnahor

  • Whatsapp

Index Berita